Kabupaten Alor
NAMA kabupaten yang terletak di bagian timur Pulau Flores ini tak terpisahkan dari citra keindahan bawah laut yang mengitarinya. Bagi para penyelam luar negeri, perairan Alor merupakan salah satu lokasi menyelam terbaik di dunia, bahkan dianggap sebagai surga bagi penyelam. Jernihnya air, indahnya terumbu karang, dan aneka hayati laut yang belum rusak, menjadi pesona yang memukau.
SEKURANGNYA terdapat 26 titik selam di perairan Selat Pantar –laut yang memisahkan Pulau Alor dan Pulau Pantar-yang diminati penyelam mancanegara. Tercatat rata-rata 100 wisatawan asing per tahun datang menyelam di perairan Alor. Sejak krisis ekonomi melanda, tahun 2001 tercatat 187 penyelam, namun tahun berikutnya hanya 109 penyelam. Angka ini boleh dibilang kecil mengingat potensi yang sangat besar. Citra yang melekat ternyata belum diimbangi dengan promosi dan pengelolaan wisata bawah laut untuk menarik wisatawan.
Dilihat dari sudut pandang ekonomi, dampak yang dibawa para turis terhadap kesejahteraan penduduk dan penerimaan daerah masih sangat minim. Potensi wisata bawah laut yang belum dikelola secara profesional belum mampu mengisi kas daerah atau penyedia lapangan usaha ikutan yang bisa menyerap tenaga kerja lokal. Usaha rumah makan, penginapan, pemandu wisata, dan perdagangan suvenir, bisa menjamur bila turis berdatangan. Setiap tahun, kontribusi sektor pariwisata-termasuk kegiatan menyelam para turis-untuk kas daerah berkisar Rp 15 juta- Rp 17 juta.
Minimnya kontribusi ini bisa dimaklumi karena minim pula pelayanan dan jasa yang diberikan pengelola sektor pariwisata daerah. Kontribusi yang didapat lebih banyak dari tiket masuk kapal dan turis yang singgah di Pelabuhan Laut Kalabahi. Itu seandainya singgah. Kenyataannya, banyak kapal motor yang membawa turis menyelam di Selat Pantar menggunakan kapal motor sendiri, bahkan kapal motor berbendera asing berhari-hari tanpa menyinggahi pelabuhan.
Keterbatasan sarana dan prasarana menjadi topik yang harus diakui pemerintah daerah dalam mengelola wisata laut. Niat sudah ada, tetapi dana belum memadai. Promotor untuk kegiatan menyelam belum ada, kapal motor dan sarana komunikasi seperti radio panggil, juga belum ada. Selain itu, pengawasan dan pengendalian di laut juga belum dapat diupayakan. Tidak heran bila turis asing datang membawa perlengkapan sendiri atau memanfaatkan jasa penyewaan dari luar daerah seperti Denpasar atau Kupang.
Potensi perairan Alor yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan penduduk baru sebatas menangkap ikan. Di sini terdapat sekitar 3.650 rumah tangga perikanan. Biasanya dalam satu rumah tangga terdapat tiga orang yang turun ke laut menangkap ikan, sehingga ada sekitar 10.950 nelayan di Alor.
Tapi, karena sistem penangkapan masih tradisional dan armada terbatas, nelayan Alor belum optimal meraup potensi ikan. Produksi tangkapan ikan rata-rata per tahun sekitar 8.500 ton. Ikan terbanyak yang diperoleh antara lain ikan layang, paperek, kerapu, ekor kuning, layur, selar, teri, tembang, tongkol, cakalang, tuna, julung- julung, cendro, kembung, dan kakap.
Hasil tangkapan ini langsung dikonsumsi oleh penduduk lokal. Untuk dipasarkan antardaerah di Pulau Flores atau bahkan antarpulau, nelayan atau pemerintah daerah belum memiliki tempat pengawetan ikan (cold storage). Setelah didaratkan, ikan yang diperoleh biasanya diharapkan langsung habis terjual. Jika tidak, ikan langsung diawetkan dengan cara dijemur atau diasap hingga kering. Usaha lanjutan dari menimba hasil laut yang mengarah pada industri pengolahan di Alor masih belum ada. Budi daya ikan, mutiara atau rumput laut, belum berkembang.
Sektor perikanan menjadi tumpuan hidup penduduk Kabupaten Alor, terutama di daerah pesisir. Namun demikian, karena menangkap ikan tergantung musim, diperlukan pekerjaan lain untuk mencukupi kebutuhan hidup. Banyak nelayan yang juga bertani.
Bertani tanaman pangan menjadi mata pencarian yang paling banyak digeluti penduduk (75 persen), meskipun topografi tanah Alor yang tandus dan berbukit-bukit sangat sulit dikembangkan sebagai basis pertanian. Yang paling mungkin adalah untuk lahan perkebunan. Menanam padi di ladang dilakukan sejak dahulu, terutama ketika pola konsumsi makanan pokok masyarakat mulai beralih dari jagung dan singkong ke beras. Adapun menanam padi sawah baru dilakukan di Alor sejak tahun 1970-an setelah diperkenalkan oleh petani Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.
Menanam padi di ladang dilakukan sekali setahun dan hampir merata di setiap kecamatan. Luas panen 4.442 hektar. Sementara luas panen padi sawah sekitar 270 hektar, atau 8% dari potensi yang bisa ditanami (3.354 hektar). Masih rendahnya lahan yang termanfaatkan untuk persawahan tak lain karena saluran irigasi di Alor lebih mengandalkan embung-istilah penduduk untuk tempat menampung air-yang praktis bergantung pada curah hujan. Sementara curah hujan di Alor rendah. Penanaman padi sawah ini antara lain di Kecamatan Alor Timur Laut, Alor Barat Laut, dan Alor Selatan.
Produksi padi rata-rata 9.918 ton per tahun. Jumlah ini belum mencukupi kebutuhan beras penduduk yang setiap tahun 28.000 ton. Kekurangannya disuplai dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. Selain mengharap suplai beras dari luar, penduduk masih mengonsumsi jagung dan singkong sebagai makanan pokok.
Bercocok tanam di Alor tidak bersifat monokultur. Lahan petani ditanami beberapa jenis tanaman, selain padi. Tanaman sebagai substitusi antara lain jambu mete, kemiri, vanili, cengkeh, pinang, dan asam. Bila satu komoditas terganggu, petani masih memiliki komoditas lain yang bisa diandalkan. Hasil perkebunan itu, selain dikonsumsi penduduk lokal juga diserap pasar luar pulau, seperti Surabaya dan Makassar.
Gianie/Litbang Kompas
Search :
Berita Lainnya :
·
Kabupaten Alor
·
Sehati Sejiwa Membangun
Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS
Tour information in Indonesia. l Wiraswasta Tour & Travel www.tourleaderguide.com Rahasia Jadi Tour Leader : Income Ribuan Dolar + Traveling Gratis
Jalan-jalan
Jalan2 Hemat ke Asia
www.travelhemat.comPanduan Dlm B. Indo ke Singapore,Anda memberi ini +1 secara publik. Urungkan
Bangkok, KL. Hanya Rp 129.000.
Senin, 31 Desember 2007
PENGEMBANGAN WILAYAH TERPADU SEBAGAI LANDASAN BAGI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI PULAU KECIL
©2003 Abdul Alim Salam Posted July 6, 2003
Makalah Pengantar Falsafah Sains (PPS702)
Program Pasca Sarjana / S3
Institut Pertanian Bogor
Juli 2003
Dosen :
Prof. Dr. Ir. Rudy C Tarumingkeng
PENGEMBANGAN WILAYAH TERPADU SEBAGAI LANDASAN BAGI
PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI PULAU KECIL
Oleh:
Abdul Alim Salam
P062024254
E-mail: abdulalims@yahoo.com
Abstrak
Setiap Pulau Kecil[1] sesungguhnya merupakan suatu unit ekosistem yang sangat khas. Ukurannya yang keci dan tersebar menempatkan sumberdaya alam di pulau kecil sangat terbatas, tetapi mempunyai keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Pulau kecil mempunyai kontribusi yang sangat besart bagi keanekaragaman hayat global. Oleh karena itu pengembangan wilayah pulau kecil harus dipertimbangkan sebagai suatu kasus yang khusus. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dari 17.508 pulaunya sebanyak 17.493 pulau dapat diklasifikasikan sebagai pulau kecil. Oleh karena itu pendekatan pengembangan wilayah di Indonesia seharusnya perlu didasari oleh pemahaman yang utuh dan mendalam mengenai pulau kecil. Hingga saat ini harus diakui pemahaman atas hal itu belum kita miliki. Makalah ini, yang disusun atas penelitian lapangan[2] yang mendalam semoga dapat membuka sedikit pemahaman kita mengenai pengembangan wilayah pulau kecil.
KARAKTERISTIK PULAU KECIL DI INDONESIA
AGENDA 21, telah membagi secara umum pulau kecil di Indonesia dalam 2 klas utama, yaitu :[3]
1. Pulau kecil dataran rendah dan rata , terdiri dari :
· pulau-pulau alluvial, di wilayah timur Sumatera.
· pulau-pulau coral, seperti Pulau Seribu di Jakarta.
· pulau-pulau atol , seperti di wilayah Sulawesi Tenggara.
2. Pulau kecil dataran tinggi dan berbukit, terdiri dari :
· Pulau-pulau monadnock, seperti pulau Batam.
· Pulau-pulau vulkanik, seperti pulau Krakatau.
· Pulau –pulau tektonik, seperti pulau Nias.
· Pulau-pulau uplifted terraces, seperti pulau Biak.
Kebanyakan pulau-pulau kecil di Indonesia tidak berpenghuni. Berdasarkan penelitan yang dilakukan oleh Ditjend, Bangda (1997) jumlah penduduk dari 2.149 pulau kecil yang berpenghuni adalah sebesar 5.494.000 jiwa. Rata-rata kepadatan penduduk di pulau kecil adalah 40-50 jiwa per km2.
METODE PENDEKATAN
Satuan Perencanaan (Planning unit)
Pulau-pulau kecil ternyata mempunyai ikatan fungsional baik secara ekonomis dan ekologis satu sama lainnya. Dengan mempertimbangkan keterkaitan tersebut, maka ditetapkan satuan gugus pulau, sebagai satuan perencanaan (planning unit). Satuan perencanaan gugus pulau ini telah diterapkan dalam pengembangan wilayah di propinsi seribu pulau ‘ Maluku, dan dinilai cukup sesuai untuk perencanaan pulau-pulau kecil lainnya di Indonesia. Pendekatan ‘gugus pulau’ lebih sesuai dan efektif dalam perencanaan alokasi sumberdaya pembangunan di pulau-pulau kecil yang tersebar dalam satu gugus pulau bersangkutan.
Pendekatan Holistik dan Terpadu
Pengelolaan sumberdaya (resources management) di pulau kecil, perlu didekati secara holistik dan terpadu. Hubungan saling terkait antar faktor demografi, budaya, kelembagaan, ekonomi, lingkungan hidup, ekosistem kelautan dan daratan, mengharuskan kita perlu mengamati jalinan input-output antara satu faktor dan lainnya, dalam perencanaan pengembangan wilayah di pulau kecil. Pendekatan holistik memungkinkan kajian antar sektor pembangunan didekati dalam suatu keterpaduan, guna mendukung alokasi sumberdaya yang optimal dan berkelanjutan.[4]
PROFIL PULAU KECIL DI DAERAH STUDI
Keragaman Budaya
Banyak yang menganggap bahwa masyarakat desa adalah suatu masyarakat homogen, apalagi untuk suatu komunitas di pulau kecil, Persepsi ini ternyata meleset jauh. Apabila bahasa dapat dijadikan tolok ukur keragaman budaya, maka temuan yang didapat sangatlah mengejutkan. Pulau Alor, suatu pulau kecil yang luasnya 2125 km2 dengan jumlah penduduk tidak lebih dari 150.000 telah hidup sebanyak 14 ragam bahasa etnik. Bahkan di pulau Adonara (Flores Timur) yang luasnya hanya 1/3 pulau Alor terdapat 42 ragam bahasa etnik. Keanekeragaman budaya juga dapat diukur dari corak ragam tenun ikat. Bagi orang awam mungkin corak tersebut tampak seragam. Padahal bagi setiap desa punya corak ragam yang unik dan sakral, artinya hanya boleh dikerjakan oleh masyarakat desa tersebut.
Lembaga Sosial
Adalah sangat ironis, dengan aneka budayanya itu, ternyata lembaga adat tidak terlalu berkembang atau ‘termatikan’. Ini disebabkan begitu kuatnya struktur pemerintahan formal, seperti Kecamatan, Desa, LKMD dan Babinsa. Akibat dari spirit reformasi, legitimasi lembaga formal tersebut menjadi sangat lemah di mata masyarakat. Namun demikian masyarakat tetap memerlukan keberadaan lembaga formal tersebut, karena mereka belum bisa mengandalkan urusannya pada lembaga adat setempat, yang sudah tidak lagi berperan sejak lama, kecuali untuk upacara-upacara adat saja.
Mata Pencaharian
Sumber mata pencaharian utama penduduk di pulau kecil adalah melakukan kegiatan campuran yaitu pertanian/perkebunan dan perikanan. Hanya sebagian kecil yang murni mengandalkan pertanian atau perikanan. Rata-rata penghasilan per KK sebesar Rp 1,5 – 3 juta per tahun, dan ini menempatkan tingkat kesejahteraan mereka termasuk yang terendah, secara nasional.
Lingkungan Hidup
Di kepulauan Alor dan Solor ada beberapa pulau berpenghuni yang tidak ada atau sangat langka sumber air tawar. Untuk memenuhi kebutuhannya, penduduk mengambil air tawar dari pulau lain. Keterikatan yang tinggi pada lahan pertanian atau/dan perdagangannya menyebabkan mereka tetap tinggal di pulaunya sekalipun kekurangan air tawar.
Beberapa desa di p. Solor membuat garam dengan cara mengeringkan air laut, menggunakan tungku kayu bakar. Akibatnya program penghijauan yang bertujuan untuk memperbaiki fungsi hidrolorologi catchment area, menjadi sia-sia.
Banyak masyarakat yang menggunakan bom dan racun untuk memperoleh ikan secara cepat dan mudah. Cara ini sangat merusak lingkungan biota laut, tempat hidup ikan. Berdasarkan wawancara dengan pelaku, ternyata mereka sangat sadar akan hal itu. Bahkan beberapa dari mereka menyadari penggunaan racun ikan juga dapat membahayakan hidup pelakunya. Banyak diantara mereka yang anggota badannya menjadi lumpuh, akibat pemakaian racun ikan.
Dibangunnya cold-storage di p. Morotai dan p. Banggai, ternyata memberi dampak yang signifikan dalam mengurangi pemakaian bom/racun ikan. Cold-storage telah memberikan jaminan pasar bagi para nelayan atas ikan tangkapannya. Sebelum ada cold-storage, pasar ikan tangkapan sangat bergantung dari pedagang, yang datangnya pada waktu tertentu dengan waktu yang singkat. Hanya dengan penggunaan bom/racun, mereka dapat memperoleh ikan secara cepat dan mudah.
Namun demikian, pembangunan cold-storage tidak dapat berpengaruh banyak bagi pemakaian racun ikan dalam konteks perdagangan ikan hias hidup.
Wisata Bahari
Sekalipun demikian, memang harus diakui bahwa potensi wisata bahari sangat besar. Di Banggai, Alor, Morotai dan Tanimbar, terdapat taman laut yang sangat indah dan sangat berpotensi untuk diving resort. Konon menurut para Divers mancanegara, diving resort yang terdapat di Alor dan Banggai, keindahannya sangat ‘excellent’. Kelemahan pokok dalam pengembangan wisata di pulau kecil adalah masih merajalela wabah malaria dan kurangnya aksesibilitas ke lokasi.
PERMASALAHAN
Berdasarkan analisis situasi di 5 gugus pulau, maka ditemukenali berbagai permasalahan yang perlu ditangani, yaitu sebagai berikut :
a. Bagian terbesar penduduk di pulau kecil sangat bergantung pada sektor pertanian. Ketiadaan akses pada teknologi dan modal telah menyebabkan tingkat produktivitasnya dan pendapatannya rendah. Mereka tidak mampu melakukan tindakan pengolahan seperti pendinginan ikan, pengawetan ikan yang tepat dan sehat.
b. Keserakahan para pedagang ikan (yang berasal dari luar) dan kesadaran lingkungan yang masih rendah, telah mendorong kerusakan sumberdaya lahan dan lingkungan biota laut.
c. Kesehatan lingkungan di pulau kecil masih terabaikan. Wabah malaria dianggap sebagai hal yang biasa. Diduga 99% penduduk di pulau kecil terkena penyakit malaria. Masalah kelangkaan sumber air tawar, juga mempunyai pengaruh yang sangat signifikan bagi kesehatan masyarakat.
d. Meskipun tingkat melek hurup di pulau kecil cukup tinggi, tetapi kurikulum pendidikannya masih kurang relevan dengan lingkungan sosial, ekonomi dan hayati setempat.
e. Pulau-pulau kecil sangat bergantung pasokan dari luar dalam memenuhi kebutuhan produk manufaktur dan beras serta produk pangan olahan lainnya, seperti super mi, roti, dll.
f. Layanan perbankan belum menjangkau pulau-pulau kecil secara merata. Umumnya Kantor BRI hanya ada di tingkat Kabupaten dan Kabupaten Pembantu. Tentu saja layanan ini samasekali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan perekonomian di pulau kecil. Di p. Morotai, p. Banggai dan p. Tanimbar sudah ada Kantor BRI, demikian juga di p. Pantar dan p. Lembata.
g. Apabila melihat ratio kendaraan dan jalan, maka infrastruktur jalan darat relatif sudah cukup baik. Biaya angkutan laut sangat rendah, sehingga hubungan penduduk pulau kecil dengan pusat perdagangan regional dan nasional relatif cukup baik.[5] Listrik masih sangat langka di pulau kecil, sehingga penerangan tidak dapat tersedia sepanjang hari.
h. Partisipasi masyarakat untuk membangun prasarana publik sangat rendah, karena mereka menilai ini merupakan kewajiban pemerintah. Padahal dalam pembangunan fasilitas sosial seperti tempat peribadatan dan sekolah, partisipasi masyarakat sangat tinggi.
i. Lembaga perencanaan di tingkat Kabupaten dan Propinsi, seperti BAPPEDA masih kurang kemampuannya dalam pengembangan wilayah pulau kecil. Dari 5 kabupaten yang diteliti hanya BAPPEDA propinsi Maluku yang mempunyai 1 orang staf yang berlatar belakang disiplin Perikanan. Kunjungan petugas dari Propinsi dan Kabupaten relatif tidak ada. Mahalnya ongkos perjalanan, dan sulitnya (serta ‘faktor keselamatan’) perjalanan merupakan alasan utamanya.
DASAR PERTIMBANGAN
1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan, guna mendorong kesejahteraan masyarakat melalui kesempatan kerja yang lebih luas dan merata.
2. Mengembangkan sumberdaya manusia, agar lebih produktif dan sadar lingkungan.
3. Memperbaiki upaya pengelolaan sumberdaya alam, dalam kaitannya dengan faktor ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan hidup.
4. Memperbaiki bentuk hubungan kerjasama antara ekonomi perkotaan dengan pedesaan .
5. Meningkatkan partisipasi masyarakat, lembaga adat dan perempuan dalam pembangunan.
6. Meningkatkan kapasitas lembaga-lembaga perencanaan di tingkat propinsi dan lokal (Kabupaten, kecamatan dan desa), dalam pengembangan wilayah pulau kecil.
USULAN PROGRAM INVESTASI
Program investasi akan diwujudkan melalui kegiatan yang saling melengkapi dan terpadu antara investasi oleh sektor publik (pemerintah) dan oleh pihak swasta.
A. Investasi Pemerintah
Investasi pemerintah dalam pengembangan wilayah di pulau-pulau kecil perlu diarahkan untuk mendorong :
a. Perkebunan skala kecil (smallholder tree crops) – investasi publik di sektor pertanian perlu difokuskan pada usaha untuk mempeluas lahan tanam untuk komoditas jambu mete, kelapa, coklat, kopi dan kemiri. Kendala dalam pengumbangan usaha perkebunan di pulau kecil adalah kurangnya akses untuk memperoleh benih unggul.
b. Perikanan – Prioritas utama yang harus dilakukan adalah untuk mengurangi penggunaan racun dan bom, yang diringi oleh upaya promosi cara penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Investasi publik perlu diarahkan untuk memberikan pelatihan budidaya perikanan, tindakan pasca tangkap seperti pengolahan ikan, pengawetan ikan dll.
c. Tanaman pangan – Dukungan dana pemerintah untuk memperluas dan memperbanyak layanan para penyuluh lapangan. Para penyuluh lapangan ini perlu ditingkatkan pengetahuannya terutama dalam penggunaan pemilihan benih unggul, pupuk organik, dan pola tanam yang konservatif. Upaya mempromosikan ‘kembali pada pangan lokal’ harus digalakkan agar ketergantungan pada pangan dari luar (terutama beras) dapat dikurangi.
d. Industri kecil dan menengah – Pemerintah perlu memberi dukungan yang cukup untuk menghidupkan usaha sektor industri kecil dan menengah yang ramah lingkungan. Investasi publik perlu dialokasikan untuk kegiatan pelatihan dan pembinaan pasar. Upaya industri yang sesuai adalah yang mempunyai kaitan dengan pertanian atau agroindustri.
e. Fasilitas kredit desa – Pemerintah juga perlu mengalokasikan pendanaan untuk kredit pedesaan, yang akan diberikan kepada kelompok masyarakat yang menunjukan komitmen kuat dan mampu untuk berusaha.
f. Kesehatan - Prioritas utama adalah memelihara dan mempebaiki mutu pelayanan kesehatan dengan mengalokasi anggaran untuk perbaikan operasi POSYANDU, PUSKESMAS Pembantu dan PUSKESMAS dan perbaikan sarana perhubungan (komunikasi dan transportasi) . Diharapkan PUSKESMAS yang ada di pulau kecil dapat dijadikan pusat rujukan dan pelayanan dari seluruh unit layanan kesehatan yang ada.
g. Pendidikan – Perhatian utama harus diberikan pada upaya untuk memperbaiki kurikulum dari sekolah lokal agar dapat lebih relevan dengan kondisi setempat. Selain itu perlu ada anggaran yang cukup untuk memperbaiki fasilitas pendidikan yang ada, yang kebanyakan berupa sekolah INPRES, yang saat ini kondisinya sudah sangat buruk.
h. Pengelolaan lingkungan hidup – Pemerintah perlu mengalokasikan anggarannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola lingkungan hidup yang berkelanjutan – yang tetap dapat menjamin kebutuhan hidup mereka tanpa merusak kemampuan alam untuk regenerasi/recycling.
i. Prasarana wilayah – Pemerintah perlu tetap menyediakan anggaran untuk peningkatan dan pemeliharaan prasarana transportasi khususnya untuk fasilitas pelabuhan, dan Jetty /dermaga, termasuk juga pengadaan sarana angkutannya, seperti ferry dan kapal penumpang. Sekalipun memang diperlukan pembangunan jalan-jalan baru seperti di Morotai, tetapi perhatian yang paling utama adalah melakukan pemeliharaan jalan secara rutin/priodik. Pembangunan jalan baru, pada tahap awalnya cukup dengan perkerasan tanpa aspal..
B. Investasi swasta
Program investasi swasta sangat penting untuk mepercepat pertumbuhan ekonomi dan perluasan kesempatan kerja. Investasi swasta dapat diarahkan untuk mendukung usaha sebagai berikut :
a. Perikanan - Investasi swasta sangat dibutuhkan dalam pembangunan fasilitas cold dtorage., budidaya laut (rumput laut, kerang mutiara, dll), pengolahan ikan (pengasapan, pengeringan dan pengasinan), dan pemasaran produk laut. Investasi swasta harus dikembangkan dalam suasana kemitraan yang saling menguntungkan dan berkelanjutan dengan masyarakat lokal,
b. Pengolahan, penyimpanan dan pemasarana komoditas pertanian – Swasta dapat menanamkan investasinya di bidang pengolahan dan pemasaran komoditas pertanian dan produk derivatifnya, terutama dalam upaya meningkatkan mutu agar dapat kompetitif di pasar nasional dan internasional. Perusahaan swasta yang bergerak dalam produk pertanian organik mempuinyai peluang yang cukup baik untuk berkembang di pulau kecil.
c. Pemasaran produk industri kecil/rumah tangga – Investasi swasta untuk memasarkan produk industri rumah tangga perlu bantuan pemerintah. Produk seperti tenun ikat, keramik, dan kerajinan tangan lainnya sebenarnya mempunyai pasar potensial di tingkat nasional dan internasional, akan tetapi perlu ada akses ke pasar melalui kerjasama dengan para peminat di luar daerah.
d. Wisata Bahari dan eco-tourism - Potensi wisata bahari dan eco-tourisdm sangat besar di pulau-pulau kecil, untuk menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Pemerintah daerah bersama pihak swasta perlu lebih menggalakan promis wiasatanya. Beberapa investaor asing sudah mencoba menanamkan modalnya di salah satu pulau dalam gugus pulau Alor. Demikian pula investor swasta sudah menunjukan minatnya untuk mengembangkan wisata bahari di p. Morotai. Pemerintah daerah selain harus memperbaiki kesehatan lingkungan agar dapat mengurangi tingkat epidemik malaria, juga harus mengalokasikan anggarannya untuk penelitian di bidang pariwisata ini.
KEPUSTAKAAN
1. Asian Development Bank, Coastal and Marine Environment Management Proceedings of a Workshop, Manila 1995.
2. Beller, W, D’Alaya, P and Hein, P, Sustainable Development and Environmental Management of Small Islands, The Phartenon Publishing Group, Paris, 1990.
3. Bruce Mitchel , et al, Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan, Gajah Mada University Press, 2000
4. Ditjend BANGDA and UNDP, The Integrated Small Islands Development Planning Assistance Project, Main Report, Volume 1, 1999.
5. Moosa, MK, De Iongh, HH, Blaauw, H,J,A and Norimarna, MKJ (Editors), Coastal Zone Management of Small Island Ecosystems, PUSDI-PSL, AIDEnvironment, Ambon, 1993.
6. Sudharto P. Hadi, Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan, Gajah Mada University Press, 2001
7. United Nations Centre for Regional Development, Development and Planning in Small Island Nations of the Pacific, Nagoya, 1993.
[1] Menurut UNESCO, yang dapat dikategorikan sebagai pulau kecil adalah bila luasnya kurang dari 10,000 km2 dan jumlah penduduknya kurang dari 500.000 jiwa.
[2] Penelitian ini didanai dari hibah UNDP kepada Pemerintah Indonesia, yang diberikan melalui Ditjend BANGDA Depdagri. Penelitian dilakukan selama 15 bulan dari Januari 1998 hingga Maret 1999, di 5 wilayah kepulauan di KTI, yaitu Kepuluan Banggai (Sulteng), Kepulauan Morotai dan Tanimbar (Maluku), dan Kepulauan Alor dan Solor (NTT).
[3] Agenda 21- Indonesia , hal 584.
[4] Untuk melaksanakan pendekatan holistik dan terpadu, komposisi tim menjadi multi-disiplin, yaitu terdiri dari Ahli Pengembangan Wilayah, Ekonomi Regional, Land Use Planner, Pemasaran, Kelembagaan, Infrastruktur, Pertanian, Gender in Development, Kehutanan dan Perikanan.
[5] Sebagai perbandingan biaya angkut barang lewat laut dari pulau Alor ke Surabaya hanya sebesar Rp 150 per kg atau sama dengan ongkos angkut dari Sukabumi ke Jakarta lewat darat.
Makalah Pengantar Falsafah Sains (PPS702)
Program Pasca Sarjana / S3
Institut Pertanian Bogor
Juli 2003
Dosen :
Prof. Dr. Ir. Rudy C Tarumingkeng
PENGEMBANGAN WILAYAH TERPADU SEBAGAI LANDASAN BAGI
PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI PULAU KECIL
Oleh:
Abdul Alim Salam
P062024254
E-mail: abdulalims@yahoo.com
Abstrak
Setiap Pulau Kecil[1] sesungguhnya merupakan suatu unit ekosistem yang sangat khas. Ukurannya yang keci dan tersebar menempatkan sumberdaya alam di pulau kecil sangat terbatas, tetapi mempunyai keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Pulau kecil mempunyai kontribusi yang sangat besart bagi keanekaragaman hayat global. Oleh karena itu pengembangan wilayah pulau kecil harus dipertimbangkan sebagai suatu kasus yang khusus. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dari 17.508 pulaunya sebanyak 17.493 pulau dapat diklasifikasikan sebagai pulau kecil. Oleh karena itu pendekatan pengembangan wilayah di Indonesia seharusnya perlu didasari oleh pemahaman yang utuh dan mendalam mengenai pulau kecil. Hingga saat ini harus diakui pemahaman atas hal itu belum kita miliki. Makalah ini, yang disusun atas penelitian lapangan[2] yang mendalam semoga dapat membuka sedikit pemahaman kita mengenai pengembangan wilayah pulau kecil.
KARAKTERISTIK PULAU KECIL DI INDONESIA
AGENDA 21, telah membagi secara umum pulau kecil di Indonesia dalam 2 klas utama, yaitu :[3]
1. Pulau kecil dataran rendah dan rata , terdiri dari :
· pulau-pulau alluvial, di wilayah timur Sumatera.
· pulau-pulau coral, seperti Pulau Seribu di Jakarta.
· pulau-pulau atol , seperti di wilayah Sulawesi Tenggara.
2. Pulau kecil dataran tinggi dan berbukit, terdiri dari :
· Pulau-pulau monadnock, seperti pulau Batam.
· Pulau-pulau vulkanik, seperti pulau Krakatau.
· Pulau –pulau tektonik, seperti pulau Nias.
· Pulau-pulau uplifted terraces, seperti pulau Biak.
Kebanyakan pulau-pulau kecil di Indonesia tidak berpenghuni. Berdasarkan penelitan yang dilakukan oleh Ditjend, Bangda (1997) jumlah penduduk dari 2.149 pulau kecil yang berpenghuni adalah sebesar 5.494.000 jiwa. Rata-rata kepadatan penduduk di pulau kecil adalah 40-50 jiwa per km2.
METODE PENDEKATAN
Satuan Perencanaan (Planning unit)
Pulau-pulau kecil ternyata mempunyai ikatan fungsional baik secara ekonomis dan ekologis satu sama lainnya. Dengan mempertimbangkan keterkaitan tersebut, maka ditetapkan satuan gugus pulau, sebagai satuan perencanaan (planning unit). Satuan perencanaan gugus pulau ini telah diterapkan dalam pengembangan wilayah di propinsi seribu pulau ‘ Maluku, dan dinilai cukup sesuai untuk perencanaan pulau-pulau kecil lainnya di Indonesia. Pendekatan ‘gugus pulau’ lebih sesuai dan efektif dalam perencanaan alokasi sumberdaya pembangunan di pulau-pulau kecil yang tersebar dalam satu gugus pulau bersangkutan.
Pendekatan Holistik dan Terpadu
Pengelolaan sumberdaya (resources management) di pulau kecil, perlu didekati secara holistik dan terpadu. Hubungan saling terkait antar faktor demografi, budaya, kelembagaan, ekonomi, lingkungan hidup, ekosistem kelautan dan daratan, mengharuskan kita perlu mengamati jalinan input-output antara satu faktor dan lainnya, dalam perencanaan pengembangan wilayah di pulau kecil. Pendekatan holistik memungkinkan kajian antar sektor pembangunan didekati dalam suatu keterpaduan, guna mendukung alokasi sumberdaya yang optimal dan berkelanjutan.[4]
PROFIL PULAU KECIL DI DAERAH STUDI
Keragaman Budaya
Banyak yang menganggap bahwa masyarakat desa adalah suatu masyarakat homogen, apalagi untuk suatu komunitas di pulau kecil, Persepsi ini ternyata meleset jauh. Apabila bahasa dapat dijadikan tolok ukur keragaman budaya, maka temuan yang didapat sangatlah mengejutkan. Pulau Alor, suatu pulau kecil yang luasnya 2125 km2 dengan jumlah penduduk tidak lebih dari 150.000 telah hidup sebanyak 14 ragam bahasa etnik. Bahkan di pulau Adonara (Flores Timur) yang luasnya hanya 1/3 pulau Alor terdapat 42 ragam bahasa etnik. Keanekeragaman budaya juga dapat diukur dari corak ragam tenun ikat. Bagi orang awam mungkin corak tersebut tampak seragam. Padahal bagi setiap desa punya corak ragam yang unik dan sakral, artinya hanya boleh dikerjakan oleh masyarakat desa tersebut.
Lembaga Sosial
Adalah sangat ironis, dengan aneka budayanya itu, ternyata lembaga adat tidak terlalu berkembang atau ‘termatikan’. Ini disebabkan begitu kuatnya struktur pemerintahan formal, seperti Kecamatan, Desa, LKMD dan Babinsa. Akibat dari spirit reformasi, legitimasi lembaga formal tersebut menjadi sangat lemah di mata masyarakat. Namun demikian masyarakat tetap memerlukan keberadaan lembaga formal tersebut, karena mereka belum bisa mengandalkan urusannya pada lembaga adat setempat, yang sudah tidak lagi berperan sejak lama, kecuali untuk upacara-upacara adat saja.
Mata Pencaharian
Sumber mata pencaharian utama penduduk di pulau kecil adalah melakukan kegiatan campuran yaitu pertanian/perkebunan dan perikanan. Hanya sebagian kecil yang murni mengandalkan pertanian atau perikanan. Rata-rata penghasilan per KK sebesar Rp 1,5 – 3 juta per tahun, dan ini menempatkan tingkat kesejahteraan mereka termasuk yang terendah, secara nasional.
Lingkungan Hidup
Di kepulauan Alor dan Solor ada beberapa pulau berpenghuni yang tidak ada atau sangat langka sumber air tawar. Untuk memenuhi kebutuhannya, penduduk mengambil air tawar dari pulau lain. Keterikatan yang tinggi pada lahan pertanian atau/dan perdagangannya menyebabkan mereka tetap tinggal di pulaunya sekalipun kekurangan air tawar.
Beberapa desa di p. Solor membuat garam dengan cara mengeringkan air laut, menggunakan tungku kayu bakar. Akibatnya program penghijauan yang bertujuan untuk memperbaiki fungsi hidrolorologi catchment area, menjadi sia-sia.
Banyak masyarakat yang menggunakan bom dan racun untuk memperoleh ikan secara cepat dan mudah. Cara ini sangat merusak lingkungan biota laut, tempat hidup ikan. Berdasarkan wawancara dengan pelaku, ternyata mereka sangat sadar akan hal itu. Bahkan beberapa dari mereka menyadari penggunaan racun ikan juga dapat membahayakan hidup pelakunya. Banyak diantara mereka yang anggota badannya menjadi lumpuh, akibat pemakaian racun ikan.
Dibangunnya cold-storage di p. Morotai dan p. Banggai, ternyata memberi dampak yang signifikan dalam mengurangi pemakaian bom/racun ikan. Cold-storage telah memberikan jaminan pasar bagi para nelayan atas ikan tangkapannya. Sebelum ada cold-storage, pasar ikan tangkapan sangat bergantung dari pedagang, yang datangnya pada waktu tertentu dengan waktu yang singkat. Hanya dengan penggunaan bom/racun, mereka dapat memperoleh ikan secara cepat dan mudah.
Namun demikian, pembangunan cold-storage tidak dapat berpengaruh banyak bagi pemakaian racun ikan dalam konteks perdagangan ikan hias hidup.
Wisata Bahari
Sekalipun demikian, memang harus diakui bahwa potensi wisata bahari sangat besar. Di Banggai, Alor, Morotai dan Tanimbar, terdapat taman laut yang sangat indah dan sangat berpotensi untuk diving resort. Konon menurut para Divers mancanegara, diving resort yang terdapat di Alor dan Banggai, keindahannya sangat ‘excellent’. Kelemahan pokok dalam pengembangan wisata di pulau kecil adalah masih merajalela wabah malaria dan kurangnya aksesibilitas ke lokasi.
PERMASALAHAN
Berdasarkan analisis situasi di 5 gugus pulau, maka ditemukenali berbagai permasalahan yang perlu ditangani, yaitu sebagai berikut :
a. Bagian terbesar penduduk di pulau kecil sangat bergantung pada sektor pertanian. Ketiadaan akses pada teknologi dan modal telah menyebabkan tingkat produktivitasnya dan pendapatannya rendah. Mereka tidak mampu melakukan tindakan pengolahan seperti pendinginan ikan, pengawetan ikan yang tepat dan sehat.
b. Keserakahan para pedagang ikan (yang berasal dari luar) dan kesadaran lingkungan yang masih rendah, telah mendorong kerusakan sumberdaya lahan dan lingkungan biota laut.
c. Kesehatan lingkungan di pulau kecil masih terabaikan. Wabah malaria dianggap sebagai hal yang biasa. Diduga 99% penduduk di pulau kecil terkena penyakit malaria. Masalah kelangkaan sumber air tawar, juga mempunyai pengaruh yang sangat signifikan bagi kesehatan masyarakat.
d. Meskipun tingkat melek hurup di pulau kecil cukup tinggi, tetapi kurikulum pendidikannya masih kurang relevan dengan lingkungan sosial, ekonomi dan hayati setempat.
e. Pulau-pulau kecil sangat bergantung pasokan dari luar dalam memenuhi kebutuhan produk manufaktur dan beras serta produk pangan olahan lainnya, seperti super mi, roti, dll.
f. Layanan perbankan belum menjangkau pulau-pulau kecil secara merata. Umumnya Kantor BRI hanya ada di tingkat Kabupaten dan Kabupaten Pembantu. Tentu saja layanan ini samasekali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan perekonomian di pulau kecil. Di p. Morotai, p. Banggai dan p. Tanimbar sudah ada Kantor BRI, demikian juga di p. Pantar dan p. Lembata.
g. Apabila melihat ratio kendaraan dan jalan, maka infrastruktur jalan darat relatif sudah cukup baik. Biaya angkutan laut sangat rendah, sehingga hubungan penduduk pulau kecil dengan pusat perdagangan regional dan nasional relatif cukup baik.[5] Listrik masih sangat langka di pulau kecil, sehingga penerangan tidak dapat tersedia sepanjang hari.
h. Partisipasi masyarakat untuk membangun prasarana publik sangat rendah, karena mereka menilai ini merupakan kewajiban pemerintah. Padahal dalam pembangunan fasilitas sosial seperti tempat peribadatan dan sekolah, partisipasi masyarakat sangat tinggi.
i. Lembaga perencanaan di tingkat Kabupaten dan Propinsi, seperti BAPPEDA masih kurang kemampuannya dalam pengembangan wilayah pulau kecil. Dari 5 kabupaten yang diteliti hanya BAPPEDA propinsi Maluku yang mempunyai 1 orang staf yang berlatar belakang disiplin Perikanan. Kunjungan petugas dari Propinsi dan Kabupaten relatif tidak ada. Mahalnya ongkos perjalanan, dan sulitnya (serta ‘faktor keselamatan’) perjalanan merupakan alasan utamanya.
DASAR PERTIMBANGAN
1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan, guna mendorong kesejahteraan masyarakat melalui kesempatan kerja yang lebih luas dan merata.
2. Mengembangkan sumberdaya manusia, agar lebih produktif dan sadar lingkungan.
3. Memperbaiki upaya pengelolaan sumberdaya alam, dalam kaitannya dengan faktor ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan hidup.
4. Memperbaiki bentuk hubungan kerjasama antara ekonomi perkotaan dengan pedesaan .
5. Meningkatkan partisipasi masyarakat, lembaga adat dan perempuan dalam pembangunan.
6. Meningkatkan kapasitas lembaga-lembaga perencanaan di tingkat propinsi dan lokal (Kabupaten, kecamatan dan desa), dalam pengembangan wilayah pulau kecil.
USULAN PROGRAM INVESTASI
Program investasi akan diwujudkan melalui kegiatan yang saling melengkapi dan terpadu antara investasi oleh sektor publik (pemerintah) dan oleh pihak swasta.
A. Investasi Pemerintah
Investasi pemerintah dalam pengembangan wilayah di pulau-pulau kecil perlu diarahkan untuk mendorong :
a. Perkebunan skala kecil (smallholder tree crops) – investasi publik di sektor pertanian perlu difokuskan pada usaha untuk mempeluas lahan tanam untuk komoditas jambu mete, kelapa, coklat, kopi dan kemiri. Kendala dalam pengumbangan usaha perkebunan di pulau kecil adalah kurangnya akses untuk memperoleh benih unggul.
b. Perikanan – Prioritas utama yang harus dilakukan adalah untuk mengurangi penggunaan racun dan bom, yang diringi oleh upaya promosi cara penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Investasi publik perlu diarahkan untuk memberikan pelatihan budidaya perikanan, tindakan pasca tangkap seperti pengolahan ikan, pengawetan ikan dll.
c. Tanaman pangan – Dukungan dana pemerintah untuk memperluas dan memperbanyak layanan para penyuluh lapangan. Para penyuluh lapangan ini perlu ditingkatkan pengetahuannya terutama dalam penggunaan pemilihan benih unggul, pupuk organik, dan pola tanam yang konservatif. Upaya mempromosikan ‘kembali pada pangan lokal’ harus digalakkan agar ketergantungan pada pangan dari luar (terutama beras) dapat dikurangi.
d. Industri kecil dan menengah – Pemerintah perlu memberi dukungan yang cukup untuk menghidupkan usaha sektor industri kecil dan menengah yang ramah lingkungan. Investasi publik perlu dialokasikan untuk kegiatan pelatihan dan pembinaan pasar. Upaya industri yang sesuai adalah yang mempunyai kaitan dengan pertanian atau agroindustri.
e. Fasilitas kredit desa – Pemerintah juga perlu mengalokasikan pendanaan untuk kredit pedesaan, yang akan diberikan kepada kelompok masyarakat yang menunjukan komitmen kuat dan mampu untuk berusaha.
f. Kesehatan - Prioritas utama adalah memelihara dan mempebaiki mutu pelayanan kesehatan dengan mengalokasi anggaran untuk perbaikan operasi POSYANDU, PUSKESMAS Pembantu dan PUSKESMAS dan perbaikan sarana perhubungan (komunikasi dan transportasi) . Diharapkan PUSKESMAS yang ada di pulau kecil dapat dijadikan pusat rujukan dan pelayanan dari seluruh unit layanan kesehatan yang ada.
g. Pendidikan – Perhatian utama harus diberikan pada upaya untuk memperbaiki kurikulum dari sekolah lokal agar dapat lebih relevan dengan kondisi setempat. Selain itu perlu ada anggaran yang cukup untuk memperbaiki fasilitas pendidikan yang ada, yang kebanyakan berupa sekolah INPRES, yang saat ini kondisinya sudah sangat buruk.
h. Pengelolaan lingkungan hidup – Pemerintah perlu mengalokasikan anggarannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola lingkungan hidup yang berkelanjutan – yang tetap dapat menjamin kebutuhan hidup mereka tanpa merusak kemampuan alam untuk regenerasi/recycling.
i. Prasarana wilayah – Pemerintah perlu tetap menyediakan anggaran untuk peningkatan dan pemeliharaan prasarana transportasi khususnya untuk fasilitas pelabuhan, dan Jetty /dermaga, termasuk juga pengadaan sarana angkutannya, seperti ferry dan kapal penumpang. Sekalipun memang diperlukan pembangunan jalan-jalan baru seperti di Morotai, tetapi perhatian yang paling utama adalah melakukan pemeliharaan jalan secara rutin/priodik. Pembangunan jalan baru, pada tahap awalnya cukup dengan perkerasan tanpa aspal..
B. Investasi swasta
Program investasi swasta sangat penting untuk mepercepat pertumbuhan ekonomi dan perluasan kesempatan kerja. Investasi swasta dapat diarahkan untuk mendukung usaha sebagai berikut :
a. Perikanan - Investasi swasta sangat dibutuhkan dalam pembangunan fasilitas cold dtorage., budidaya laut (rumput laut, kerang mutiara, dll), pengolahan ikan (pengasapan, pengeringan dan pengasinan), dan pemasaran produk laut. Investasi swasta harus dikembangkan dalam suasana kemitraan yang saling menguntungkan dan berkelanjutan dengan masyarakat lokal,
b. Pengolahan, penyimpanan dan pemasarana komoditas pertanian – Swasta dapat menanamkan investasinya di bidang pengolahan dan pemasaran komoditas pertanian dan produk derivatifnya, terutama dalam upaya meningkatkan mutu agar dapat kompetitif di pasar nasional dan internasional. Perusahaan swasta yang bergerak dalam produk pertanian organik mempuinyai peluang yang cukup baik untuk berkembang di pulau kecil.
c. Pemasaran produk industri kecil/rumah tangga – Investasi swasta untuk memasarkan produk industri rumah tangga perlu bantuan pemerintah. Produk seperti tenun ikat, keramik, dan kerajinan tangan lainnya sebenarnya mempunyai pasar potensial di tingkat nasional dan internasional, akan tetapi perlu ada akses ke pasar melalui kerjasama dengan para peminat di luar daerah.
d. Wisata Bahari dan eco-tourism - Potensi wisata bahari dan eco-tourisdm sangat besar di pulau-pulau kecil, untuk menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Pemerintah daerah bersama pihak swasta perlu lebih menggalakan promis wiasatanya. Beberapa investaor asing sudah mencoba menanamkan modalnya di salah satu pulau dalam gugus pulau Alor. Demikian pula investor swasta sudah menunjukan minatnya untuk mengembangkan wisata bahari di p. Morotai. Pemerintah daerah selain harus memperbaiki kesehatan lingkungan agar dapat mengurangi tingkat epidemik malaria, juga harus mengalokasikan anggarannya untuk penelitian di bidang pariwisata ini.
KEPUSTAKAAN
1. Asian Development Bank, Coastal and Marine Environment Management Proceedings of a Workshop, Manila 1995.
2. Beller, W, D’Alaya, P and Hein, P, Sustainable Development and Environmental Management of Small Islands, The Phartenon Publishing Group, Paris, 1990.
3. Bruce Mitchel , et al, Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan, Gajah Mada University Press, 2000
4. Ditjend BANGDA and UNDP, The Integrated Small Islands Development Planning Assistance Project, Main Report, Volume 1, 1999.
5. Moosa, MK, De Iongh, HH, Blaauw, H,J,A and Norimarna, MKJ (Editors), Coastal Zone Management of Small Island Ecosystems, PUSDI-PSL, AIDEnvironment, Ambon, 1993.
6. Sudharto P. Hadi, Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan, Gajah Mada University Press, 2001
7. United Nations Centre for Regional Development, Development and Planning in Small Island Nations of the Pacific, Nagoya, 1993.
[1] Menurut UNESCO, yang dapat dikategorikan sebagai pulau kecil adalah bila luasnya kurang dari 10,000 km2 dan jumlah penduduknya kurang dari 500.000 jiwa.
[2] Penelitian ini didanai dari hibah UNDP kepada Pemerintah Indonesia, yang diberikan melalui Ditjend BANGDA Depdagri. Penelitian dilakukan selama 15 bulan dari Januari 1998 hingga Maret 1999, di 5 wilayah kepulauan di KTI, yaitu Kepuluan Banggai (Sulteng), Kepulauan Morotai dan Tanimbar (Maluku), dan Kepulauan Alor dan Solor (NTT).
[3] Agenda 21- Indonesia , hal 584.
[4] Untuk melaksanakan pendekatan holistik dan terpadu, komposisi tim menjadi multi-disiplin, yaitu terdiri dari Ahli Pengembangan Wilayah, Ekonomi Regional, Land Use Planner, Pemasaran, Kelembagaan, Infrastruktur, Pertanian, Gender in Development, Kehutanan dan Perikanan.
[5] Sebagai perbandingan biaya angkut barang lewat laut dari pulau Alor ke Surabaya hanya sebesar Rp 150 per kg atau sama dengan ongkos angkut dari Sukabumi ke Jakarta lewat darat.
Taman Laut Alor
Taman Laut Alor PDF Cetak E-mail
Keindahan dan keunikan alam bawah laut Selat Pantar sangat menakjubkan. Bahkan jika dibandingkan dengan Taman Laut Komodo di NTT, Berau di Kalimantan Timur, Bunaken di Sulawesi Utara dan Raja Ampat di Papua, Selat Pantar masih tetap yang terbaik, meski selama ini untuk diving, taman laut Komodo, Bunaken, Berau, dan Raja Ampat lebih populer, tapi di mata para diver kelas dunia taman laut Selat Pantar yang terletak di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, lebih unggul karena keindahannya yang menakjubkan. Konon terindah setelah taman laut Kepulauan Karibia. Banyak wisatawan asing yang pernah ke Alor terkagum-kagum. Sebab, selain dimanjakan keindahan taman lautnya, mereka juga menemukan fenomena taman laut tersebut langka dan sangat menarik. Makanya, wajar jika wisata bahari Alor dengan panorama bawah laut yang spefisik di Selat Pantar menjadi primadona dan pemikat bagi para diver kelas dunia dari Amerika, Australia, Austria, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman, Kanada, Selandia Baru, dan beberapa negara di Asia.
Tercatat, ada 26 titik diving yang memesona wisatawan di sana. Ke-26 titik diving itu yaitu, Half Moon Bay, Peter's Prize, Crocodile Rook, Cave Point, The Edge, Coral Clitts, Baeylon, The Arch, Fallt Line, The Pacth, Nite Delht, Kal's Dream, The Ball, Trip Top, The Mlai Hall, No Man's Land, The Chatedral, School's Ut, dan Shark Close.
Titik diving yang terakhir ini sangat menarik karena merupakan kumpulan ikan hiu dasar laut yang sangat bersahabat dengan para diver. Keindahan bawah laut yang terdapat di Alor Besar, Alor Kecil, Dulolong, Pulau Buaya, Pulau Kepa, Pulau Ternate, Pulau Pantar, dan Pulau Pura, juga mengundang decak kagum para diver profesional dari Jakarta dan Bali untuk datang ke sana.
Bahkan, para diver kelas dunia mengakui, bahwa kawasan taman laut Alor merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Tengok saja pengakuan Ken Parker dari Amerika Serikat, More big fish, prolific swarming masses of schools than anywhere I've seen in 20 years of diving.
Atau dengarkan penuturan Adrienne May dari Australia. Enjoyed seeing the Manta Rays, Sharks, Turtles, Dolphins, Whales and that huge Napoleon Wrasse. Bahkan, Michael AW fotografer asal Singapura berkata, A World class diving!... Kal's Dream is to be dived again and again and again.... of all my underwater sojourns, Alor is among the best!. Begitu juga pernyataan Helen Roberts dari Inggris, We saw hue Sunfish, Reef Sharks, Turtles, Moray Eels, Rays, Naopoleon Wrase, Dog-tooth Tuna, Barracuda and loads of beautiful Reef Fish all in just three dives.
Selain potensi wisata bahari, Alor juga menyimpan sejumlah objek wisata yang memiliki daya tarik secara kultural dan historis yang jarang dijamah dan dikunjungi baik oleh penduduk setempat maupun oleh wisatawan. Meski memiliki aksebilitas amat terbatas, tapi bagi para pencinta petualangan alam justru menjadi tantangan dan keunikan.
Salah satunya, alquran tua dari kulit kayu yang ditulis dengan tinta ramuan tradisional yang diperkirakan berusia lebih dari 800 tahun, sebuah bukti sejarah tentang keberadaan Islam di Alor. Daya pemikat lainnya yaitu kampung Takpala, sebuah desa tradisional yang dihuni oleh suku Abui dengan pola perkampungan linear dengan deretan rumah adat.
Masyarakatnya yang masih memegang teguh adat dan tradisi akan mempertontonkan atraksi budayanya yang khas dalam menyambut para pelancong, membuat nama desa ini melambung sampai ke mancanegara.
Bagi pendaki gunung yang menggilai tantangan di tempat yang masih perawan, Gunung Delaki Sirung di Pulau Pantar dan Gunung Koya-Koya di Pulau Alor, adalah tempatnya. Kepenatan yang melelahkan itu segera sirna membawa kesejukan dan kesegaran jiwa setelah menyaksikan fenomena geologi vulkanik di Desa Air Panas dan Air Terjun di Pulau Pantar, taman wisata alam Tuti Adagae di Pulau Alor.
Sementara ranch mini peternakan rusa (terbaik di kawasan timur Indonesia) jangan dilewatkan untuk dikunjungi. Kesejukan dan kesegaran di alam Hutan Nostalgia juga akan menyapa setiap pengunjung yang ingin melepas kepenatan.
Sebelum beranjak kembali pulang, jangan lupa menanam pohon di Hutan Nostalgia sebagai tanda Anda pernah mengunjungi Pulau Alor. Nama dan alamat Anda akan diabadikan pada pohon yang ditanam dan dikenang sepanjang masa.
Add as favourites (0) | Quote this article on your site | Views: 138 | Cetak | E-mail
Be first to comment this article
RSS comments
Beri Komentar
* Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
* Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
* Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Komentar:
Kode:* Code
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved
< Sebelumnya Berikutnya >
[ Kembali ]
Advertisement
Produk Terbaru
Orchard Parade Hotel - Singapore
Orchard Parade Hotel - Singapore
Rp.1.708.500
Add to Cart
Produk Acak
Batavia - Jakarta (4 Stars)
Batavia - Jakarta (4 Stars)
Rp.310.000
Add to Cart
Penghargaan Liburan.Info
Produk
Hotel Paket Tour Promo Hotel & Tour
Pegunjung Liburan
Pengunjung Liburan.Info
Orang
Komentar Terahir
Air Panas Tirta Sani...
emang apa hubungannya antara panas ...
31/12/07 11:28 More...
By gilang
Mata Air Panas Ciate...
banyak banget villa di sepanjang ja...
31/12/07 11:20 More...
By Linus
Mata Air Panas Ciate...
VILLA YG ENAK DI CIATER, APA ADA IN...
30/12/07 21:40 More...
By IBNU
Curug Nangka Bogor
Mau minta info, utk villa yang adem...
30/12/07 21:39 More...
By IBNU
Lampung, Tujuan Jala...
saya mau menanyakan tentang hotel d...
30/12/07 18:08 More...
By joko ramdhoni
Milis Liburan.Info
Klik disini
untuk bergabung
di milis liburaninfo
Rekan Liburan.Info
Indonesia Antique Galery
Keindahan dan keunikan alam bawah laut Selat Pantar sangat menakjubkan. Bahkan jika dibandingkan dengan Taman Laut Komodo di NTT, Berau di Kalimantan Timur, Bunaken di Sulawesi Utara dan Raja Ampat di Papua, Selat Pantar masih tetap yang terbaik, meski selama ini untuk diving, taman laut Komodo, Bunaken, Berau, dan Raja Ampat lebih populer, tapi di mata para diver kelas dunia taman laut Selat Pantar yang terletak di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, lebih unggul karena keindahannya yang menakjubkan. Konon terindah setelah taman laut Kepulauan Karibia. Banyak wisatawan asing yang pernah ke Alor terkagum-kagum. Sebab, selain dimanjakan keindahan taman lautnya, mereka juga menemukan fenomena taman laut tersebut langka dan sangat menarik. Makanya, wajar jika wisata bahari Alor dengan panorama bawah laut yang spefisik di Selat Pantar menjadi primadona dan pemikat bagi para diver kelas dunia dari Amerika, Australia, Austria, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman, Kanada, Selandia Baru, dan beberapa negara di Asia.
Tercatat, ada 26 titik diving yang memesona wisatawan di sana. Ke-26 titik diving itu yaitu, Half Moon Bay, Peter's Prize, Crocodile Rook, Cave Point, The Edge, Coral Clitts, Baeylon, The Arch, Fallt Line, The Pacth, Nite Delht, Kal's Dream, The Ball, Trip Top, The Mlai Hall, No Man's Land, The Chatedral, School's Ut, dan Shark Close.
Titik diving yang terakhir ini sangat menarik karena merupakan kumpulan ikan hiu dasar laut yang sangat bersahabat dengan para diver. Keindahan bawah laut yang terdapat di Alor Besar, Alor Kecil, Dulolong, Pulau Buaya, Pulau Kepa, Pulau Ternate, Pulau Pantar, dan Pulau Pura, juga mengundang decak kagum para diver profesional dari Jakarta dan Bali untuk datang ke sana.
Bahkan, para diver kelas dunia mengakui, bahwa kawasan taman laut Alor merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Tengok saja pengakuan Ken Parker dari Amerika Serikat, More big fish, prolific swarming masses of schools than anywhere I've seen in 20 years of diving.
Atau dengarkan penuturan Adrienne May dari Australia. Enjoyed seeing the Manta Rays, Sharks, Turtles, Dolphins, Whales and that huge Napoleon Wrasse. Bahkan, Michael AW fotografer asal Singapura berkata, A World class diving!... Kal's Dream is to be dived again and again and again.... of all my underwater sojourns, Alor is among the best!. Begitu juga pernyataan Helen Roberts dari Inggris, We saw hue Sunfish, Reef Sharks, Turtles, Moray Eels, Rays, Naopoleon Wrase, Dog-tooth Tuna, Barracuda and loads of beautiful Reef Fish all in just three dives.
Selain potensi wisata bahari, Alor juga menyimpan sejumlah objek wisata yang memiliki daya tarik secara kultural dan historis yang jarang dijamah dan dikunjungi baik oleh penduduk setempat maupun oleh wisatawan. Meski memiliki aksebilitas amat terbatas, tapi bagi para pencinta petualangan alam justru menjadi tantangan dan keunikan.
Salah satunya, alquran tua dari kulit kayu yang ditulis dengan tinta ramuan tradisional yang diperkirakan berusia lebih dari 800 tahun, sebuah bukti sejarah tentang keberadaan Islam di Alor. Daya pemikat lainnya yaitu kampung Takpala, sebuah desa tradisional yang dihuni oleh suku Abui dengan pola perkampungan linear dengan deretan rumah adat.
Masyarakatnya yang masih memegang teguh adat dan tradisi akan mempertontonkan atraksi budayanya yang khas dalam menyambut para pelancong, membuat nama desa ini melambung sampai ke mancanegara.
Bagi pendaki gunung yang menggilai tantangan di tempat yang masih perawan, Gunung Delaki Sirung di Pulau Pantar dan Gunung Koya-Koya di Pulau Alor, adalah tempatnya. Kepenatan yang melelahkan itu segera sirna membawa kesejukan dan kesegaran jiwa setelah menyaksikan fenomena geologi vulkanik di Desa Air Panas dan Air Terjun di Pulau Pantar, taman wisata alam Tuti Adagae di Pulau Alor.
Sementara ranch mini peternakan rusa (terbaik di kawasan timur Indonesia) jangan dilewatkan untuk dikunjungi. Kesejukan dan kesegaran di alam Hutan Nostalgia juga akan menyapa setiap pengunjung yang ingin melepas kepenatan.
Sebelum beranjak kembali pulang, jangan lupa menanam pohon di Hutan Nostalgia sebagai tanda Anda pernah mengunjungi Pulau Alor. Nama dan alamat Anda akan diabadikan pada pohon yang ditanam dan dikenang sepanjang masa.
Add as favourites (0) | Quote this article on your site | Views: 138 | Cetak | E-mail
Be first to comment this article
RSS comments
Beri Komentar
* Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
* Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
* Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
Komentar:
Kode:* Code
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved
< Sebelumnya Berikutnya >
[ Kembali ]
Advertisement
Produk Terbaru
Orchard Parade Hotel - Singapore
Orchard Parade Hotel - Singapore
Rp.1.708.500
Add to Cart
Produk Acak
Batavia - Jakarta (4 Stars)
Batavia - Jakarta (4 Stars)
Rp.310.000
Add to Cart
Penghargaan Liburan.Info
Produk
Hotel Paket Tour Promo Hotel & Tour
Pegunjung Liburan
Pengunjung Liburan.Info
Orang
Komentar Terahir
Air Panas Tirta Sani...
emang apa hubungannya antara panas ...
31/12/07 11:28 More...
By gilang
Mata Air Panas Ciate...
banyak banget villa di sepanjang ja...
31/12/07 11:20 More...
By Linus
Mata Air Panas Ciate...
VILLA YG ENAK DI CIATER, APA ADA IN...
30/12/07 21:40 More...
By IBNU
Curug Nangka Bogor
Mau minta info, utk villa yang adem...
30/12/07 21:39 More...
By IBNU
Lampung, Tujuan Jala...
saya mau menanyakan tentang hotel d...
30/12/07 18:08 More...
By joko ramdhoni
Milis Liburan.Info
Klik disini
untuk bergabung
di milis liburaninfo
Rekan Liburan.Info
Indonesia Antique Galery
Langganan:
Komentar (Atom)